Seksualitas dan Gender #11

Assalamualaikum wr wb

Perkenalkan nama aku Dinda Junika nim 2110323014 dari Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada pertemuan ke-11 ini kita akan membahas tentang "Seksualitas dan Gender"

Physical Side Of Human Sexuality
    Secara umum seksual adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal hal yang berkaitan dengan hubungan intim antara laki laki dan perempuan. Karakter seksual dapat dibedakan dalam dua golongan atau dua kelamin yaitu laki laki dan perempuan. Adapun ciri ciri primer dan sekunder yang berperan penting untuk membedakan atau menggolongkan seseorang masuk ke dalam kelompok kelamin laki laki atau perempuan. Pada laki laki tumbuh kumis dan janggut pada muka, rambut pada dada, rambut pada sekitar alat kelamin, rambut pada ketiak, suara menjadi keras dan berat dan mengalami mimpi basah. Sedangkan pada perempuan mengalami menstruasi, tumbuh rambut pada sekitar alat kelamin dan di ketiak, pinggul melebar, dan payudara mulai tumbuh. 
    Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder, muncul juga hasrat untuk menyalurkan keinginan seksual. Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual memang harus terjadi antara laki laki dan perempuan untuk perkembangbiakan dan memiliki keturunan.

Psychological Side Of Human Sexaulity (Gender Identity&Gender Development)
a. Konsep Identitas Gender
Salah satu Atribut awal pada diri manusia adalah gender. Gender merupakan pembeda yang tampak antara laki-laki dan perempuan yang dapat diamati dari segi nilai dan tingkah laku, perbedaan tersebut dapat ditemukan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional yang menjadi konsep cultural dalam masyarakat. Singkatnya gender berperan sebagai dimensi sosial bagi seorang laki-laki dan perempuan. Maka dari itu kita dapat memahami identitas gender sebagai pemahaman bahwa seseorang merupakan anggota dari salah satu jenis kelamin, atau rasa fundamental terhadap persepsi dari rasa kepemilikan dari suatu gender. Identitas gender berperan sebagai rujukan pengertian dan interpretasi pada gambaran pribadi dan gambaran lain yang diharapkan dari masing-masing gender. Identitas gender memiliki kaitan erat dengan Gender Role (peran gender), dimana setiap masing-masing gender memiliki perannya, yang nantinya disinkronkan dengan budaya, pandangan, dan harapan masyarakat di sekitarnya. Contohnya gender perempuan dipandang masyarakat memiliki sifat lemah lembut maka dari itu secara tidak langsung perempuan dituntut memiliki sifat lemah lembut tersebut.

b. Perkembangan Gender
Konsep gender dapat berubah karena dipengaruhi jalannya sejarah serta pengaruh perubahan politik, ekonomi, sosial budaya atau bahkan kemajuan teknologi yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. yang akhirnya menjadikan penafsiran atas gender terus berkembang, dan perkembangan tersebut didapatkan dari beberapa pengaruh, yakni:
a. Pengaruh biologis
b. Pengaruh kognitif sosial
c. Peran bahasa dalam perkembangan Gender
d. Pengaruh sosial
e. Pengaruh pengasuhan
f. Pengaruh teman sebaya
g. Pengaruh teman dan guru
h. Pengaruh media
i. Pengaruh budaya

c. Teori Perkembangan Gender
Berikut merupakan beberapa teori yang mempengaruhi perkembangan gender :
1. Skema Gender
Skema gender (gender schema theory) menyatakan bahwa perhatian dan perilaku individu dipandu oleh motivasi internal untuk menyesuaikan diri dengan standard-standard dan stereotype-stereotype sosial budaya yang berbasis gender. Menurut teori skema gender, kemungkinan sudah dimulai pada usia bayi anak sudah mulai mengkategorikan berbagai kejadian dan orang-orang termasuk mengkategorikan gender seseorang.
2. Gender dan Marginalisasi Perempuan
Marginalisasi Perempuan disebabkan ketika perempuan tidak dapat berkontribusi dalam suatu aspek atau bidang pekerjaan tertentu karena stereotype tertentu yang melekat cukup lama pada perempuan, seperti stigma bahwa perempuan merupakan individu yang lemah, sensitif dan cengeng.
3. Gender dan Subordinasi
Situasi dimana salah satu gender direndahkan dari gender lainnya. Contohnya seperti adanya anggapan tentang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akhirnya akan ke dapur juga.
4. Gender dan Stereotipe
Stereotype adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu, hal ini sering terjadi pada wanita seperti, wanita yang berdandan dibeli sebagai wanita yang mencari perhatian lawan jenis, sehingga dalam kasus pelecehan seksual selalu dibawa-bawa stereotype ini, sehingga muncul sebuah ketidakadilan dimana si korban lah yang dituduh salah.
5. Ketimpangan Gender dalam Pendidikan
Contohnya sering ditemukan pada sistem pendidikan yang berlaku di sekolah-sekolah cenderung memperkuat ketimpangan gender seperti ilustrasi buku pelajaran dan bacaan lain menampilkan figur-figur laki-laki sebagai pemegang stetoskop, tabung reaksi, dan komputer. sedangkan figure perempuan lebih sering ditemukan sebagai pemegang alat-alat penunjang kehidupan domestic yang pada akhirnya membuat stereotype pada kalangan masyarakat bahwa pendidikan pada perempuan dinomorduakan.
6. Ketimpangan Gender dalam Dunia Kerja
Penyebab kesenjangan gender di dalam dunia kerja, ditemui dari institusional terkait penilaian atas tingkat pendidikan, pengalaman kerja, diskriminasi, eksklusivitas di bidang kerja tertentu, dan sebagainya. hal ini menjadi problem yang tidak asing lagi bagi perempuan ditambah lagi kesenjangan tersebut semakin nampak ketika adanya kultur sosial, yang menopang di dalam kehidupan perempuan itu sendiri yakni adanya budaya patriarki, tuntutan mengandung dan mengurus anak, dan sebagainya.

Human Sexual Behaviour
Seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada lawan jenis melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual, dan melalui perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerakan tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.
Secara historis, psikologi telah mempelajari perilaku sejak awal, dan salah satunya adalah seks. Teori Seksualitas Sigmund Freud menjadi dasar bagi banyak studi psikologi dan studi yang berkaitan dengan seksualitas. Di APA, studi tentang seks sejauh ini belum menetapkan sendiri sebagai sebuah departemen.

Sexual Health
A. Pendidikan Seksual
Pengetahuan akan masalah kesehatan seksual bukanlah hal yang tabu di masa modern seperti sekarang ini, sudah menjadi hak bagi generasi baru untuk mendapatkan pendidikan terkait kesehatan seksual. Topik tentang kesehatan seksual ini harus dibimbing dan diawasi dengan baik karena hal tersebut sensitif di lingkungan masyarakat, diharapkan bimbingan ini didampingi oleh pihak yang terpercaya seperti orangtua, pengajaran dari sekolah, dan pihak edukasi seksual bukanlah dari teman sebaya dengan keterbatasan wawasan ilmu hingga berujung rasa keingintahuan terhadap hal hal yang berbau pornografi. Ruang lingkup terdekat setiap individu adalah keluarga dimana orang tua menjadi pengajar pertama bagi anaknya, pengetahuan akan kesehatan seksual yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya diharapkan dapat dimengerti dengan mudah dan lebih nyaman dibandingkan jika dijelaskan oleh pihak lain. Namun pihak sekolah juga dapat membimbing siswa nya dengan berbagai metode penjelasan.
Bentuk pendidikan kesehatan seksual di sekolah :
1. Abstinence-only approach.
a. Fokus mengajarkan untuk abstain dari aktivitas seksual.
2. Abstinence-plus.
a. Abstain tetap yang utama, namun juga memberikan informasi mengenai alat kontrasepsi dan kondom, sehingga bagi siswa yang memutuskan untuk mencoba seks bisa menyiapkan dirinya.
3. Comprehensive sex education.
a. Abstain bukan gol yang utama.
b. Siswa diberikan banyak alternatif dan sumber-sumber informasi.
c. Decision-making skill adalah tujuan yang utama.

Aktivitas-aktivitas yang terkait dengan pendidikan seksualitas di sekolah adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui topik – topik biologis seperti merangkai puzzle bagian – bagian tubuh.
2. Mencegah dari korban perilaku menyimpang seperti diskusi kelompok dengan topik – topik menyimpang.
3. Mengurangi kesalahan, rasa memalukan, dan menggelisahkan seperti diskusi kelompok dengan topik yang dinilai tabu untuk dibicarakan.
4. Mendorong menjalin persahabatan yang baik. Perlu adanya perubahan istilah dari sex education ke sex and relationship.
5. Mencegah kehamilan di usia dini.
6. Mengurangi hal – hal yang mengindikasikan penularan penyakit seksual.
7. Peran laki – laki dan perempuan di masyarakat.

Hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua terkait dengan pendidikan seksualitas di rumah
adalah:
1. Inisiasi pembicaraan mengenai seks sejak dini.
2. Cari tahu bagaimana mereka belajar mengenai seksualitas, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Isi kekurangan yang ada.
3. Wajar jika orang tua merasa malu maupun kikuk saat membahas mengenai hal ini dengan anak-anak.
4. Jangan setengah-setengah dalam memberikan informasi. Informasi tidak terbatas hanya pada sesuatu yang mekanik.
5. Biarkan pembicaraan mengalir dan bahas juga mengenai human relationship.

b. Kesehatan Seksual
Menurut World Health Organisation, kesehatan seksual didefinisikan sebagai 'suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial dalam kaitannya dengan seksualitas'. Kesehatan seksual ini mencakup banyak hal dan harus dipahami sejak dini, mulai dari pengetahuan menjaga kesehatan reproduksi, alat pelindung aktivitas seksual, pemahaman akan hubungan seksual, hingga penyakit yang dapat menular akibat kesalahan seksual seperti HIV/AIDS. Salah satu cara menjaga kesehatan seksual atau reproduksi adalah menjaga kebersihan organ kelamin dengan cara membilas hingga bersih menggunakan air mengalir, mengganti rutin celana dalam, jika wanita yang sedang haid dianjurkan mengganti pembalut setiap 4 jam sekali, membersihkan area kemaluan. Lalu kita sebagai manusia juga bertanggung jawab untuk menjaga kesucian kita jangan sampai melakukan kesalahan yang dapat merugikan kedepannya. Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan reproduksi
seksual:
a. Menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan seksual
b. Tidak bergonta-ganti pasangan seks
c. Menjaga kebersihan alat vital sebelum dan sesudah berhubungan
d. Cek dan ricek riwayat seksual diri sendiri dan pasangan

c. Penyimpangan Seksual
Penyimpangan sosial adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan cara tidak sewajarnya. Biasanya orang tersebut menggunakan objek sex yang tidak wajar atau tujuan seksual yang tidak wajar. Penyebab terjadi kelainan ini bersifat kejiwaan atau psikologis seperti pengalaman masa kecil, lingkungan pergaulan, faktor genetik, dan penyebab lain akan kelainan ini biasanya penyalahgunaan obat dan alkohol.
Macam macam penyimpangan seksual:
1. Homoseksual
Kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Istilah gay diberikan untuk penderita laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan.
2. Sadomasokisme Seksual
Kelainan seksual dimana kepuasan seksualnya diperoleh apalagi mereka melakukan kekerasan atau menyakiti pasangannya sebelum berhubungan seksual.
3. Ekshibisionisme
Kelainan seksual dimana penderitanya memperoleh kepuasan seksual dengan memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain atas kehendaknya sendiri.
4. Hypersexuality
Penyimpangan seksual yang ditandai dengan tingginya keinginan untuk berhubungan seksual dan sulit untuk mengontrol hasrat tersebut. contoh laki laki yang telah berumah tangga pada dasar hanya berhubungan dengan satu wanita saja yaitu istrinya, namun bagi penderita hypersex satu wanita saja tidak cukup untuk memuaskannya.
5. Voyeurisme
Dalam bahasa Prancis voyeur artinya mengintip. Kelainan seksual yang memperoleh kepuasan dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi, bahkan sedang berhubungan seksual.
6. Fetishisme
Kelainan seksual yang menyalurkan aktivitas seksualnya dengan alat atau benda yang dapat meningkatkan hasrat seksual seperti bra, celana dalam, kaos kaki, dan lainnya.
7. pedopilia
Orang dewasa yang suka berhubungan seks atau melakukan kontak fisik yang merangsang dengan anak dibawah umur. Biasanya anak perempuan yang berusia 8-10 tahun dan anak laki laki yang berusia 10-12 tahun.
8. Incest
Hubungan seks yang dilakukan dengan sesama anggota keluarga atau memiliki ikatan darah juga ikatan perkawinan namun bukan suami istri, seperti ayah dengan anak perempuan, ibu dengan anak laki-laki, ataupun pertalian keluarga angkat.
9. Necrofil
Kelainan seksual dimana penderitanya suka melakukan hubungan seksual dengan mayat atau orang yang telah meninggal, biasanya disebabkan oleh trauma  mendalam masa lalu sehingga penderita tidak ada keberanian untuk menghadapi seksual yang nyata.
10. Zoophilia
Penderita memiliki ketertarikan untuk berhubungan seksual dengan hewan dengan menyetubuhi atau dilatih untuk merangsang seksual.
11. Sodomi
Penyimpangan seksual dengan melakukan hubungan seksual melalui dubur atau bagian belakang pasangannya baik dengan pasangan sejenis ataupun lawan jenis.
12. Frotteuris
Kelainan seksual laki-laki yang mendapat kepuasan dengan menggesekan alat vital nya kepada perempuan di tempat umum atau di kendaraan umum.
13. Gerontophilia
Kelainan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual dengan orang yang telah lanjut usia atau nenek kakek. Pelaku jarang terlihat karena biasanya mereka tetap melakukan kehidupannya seperti biasa dengan berumah tangga dan bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

Perspektif Biologis Pada Psikologi #2

Psiologi Sosial #10