Gangguan Psikologis #13
Abnormality
Abnormality sering dikenal sebagai istilah sesuatu yang tidak normal. Namun, Pada psikologi abnormal mengacu pada ketidaknormalan perilaku maupun pemikiran manusia. Abnormality merupakan jenis perilaku menyimpang (deviance) yang memerlukan perhatian profesional dari psikiater, psikologi atau tenaga profesional lainnya di bid kesehatan jiwa (Fausiah & Widury, 2007). Jadi yang disebut perilaku abnormal adalah perilaku berbeda, tidak mengikuti aturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dimengerti melalui kriteria yang biasa (Fausiah & Widury, 2007).
Secara umum, Abnormality merupakan Ketidaksesuaian pola pikir dan tingkah laku seseorang terhadap standar perilaku yang berkembang di masyarakat setempat. Studi ilmiah tentang gangguan mental, emosional, dan perilaku dikenal sebagai Psikopatologi. Istilah ini juga mengacu pada gangguan mental itu sendiri, seperti skizofrenia atau depresi, dan pola perilaku yang membuat orang tidak bahagia dan mengganggu pertumbuhan pribadi seseorang (Butcher, Mineka, & Hooley, 2007).
Psikolog mendefinisikan abnormal didasarkan pada beberapa faktor berikut:
a. Subjective Discomfort
Abnormalitas dikatakan ketika seseorang mengalami ketidaknyamanan subjektif (perasaan pribadi sakit, tidak bahagia, atau tekanan emosional).
b. Statistical Abnormality
Psikolog menggunakan statistik untuk mendefinisikan normalitas secara lebih objektif. Abnormalitas statistik mengacu pada penilaian yang sangat tinggi atau rendah pada beberapa dimensi, seperti kecerdasan, kecemasan, atau depresi. Atau dapat dikatakan bahwa Abnormalitas didefinisikan berdasarkan skor ekstrim pada beberapa dimensi, seperti IQ atau kecemasan.
c. Social nonconformity
Kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial atau standar minimum yang biasa untuk perilaku sosial menjadi faktor penilaian abnormalitas seseorang. Perilaku atipikal atau ketidaksesuaian terkadang mendasari beberapa gangguan. Ketidaksesuaian sosial mengacu pada tidak mematuhi standar publik untuk perilaku yang dapat diterima. Ketidaksesuaian yang ekstrim dapat menyebabkan perilaku destruktif atau merusak diri sendiri.
d. Context
Sebelum perilaku dapat didefinisikan sebagai abnormal, kita harus mempertimbangkan konteks situasional (situasi sosial, pengaturan perilaku, atau keadaan umum). Apakah yang dilakukan seseorang itu normal atau tidak tergantung pada konteks situasionalnya. Contohnya, Apakah normal berdiri di luar dan menyirami halaman dengan selang? Itu tergantung pada apakah keadaan sedang hujan atau tidak. Jika keadaan sedang hujan dianggap tidak normal, dan begitu sebaliknya.
e. Culture
Budaya adalah salah satu konteks yang paling berpengaruh di mana setiap perilaku dinilai (Fabrega, 2004). Dalam beberapa budaya suatu tindakan dianggap normal, namun ada juga menganggapnya tidak normal. Seperti, Dalam budaya Muslim, wanita yang tetap tinggal di rumah sepenuhnya dianggap normal atau bahkan berbudi luhur. Dalam budaya Barat mereka mungkin didiagnosis menderita kelainan yang disebut agoraphobia. Jadi, relativitas budaya (gagasan bahwa penilaian dibuat relatif terhadap nilai-nilai budaya seseorang) dapat mempengaruhi diagnosis gangguan psikologis. Namun, semua budaya mengklasifikasikan orang sebagai abnormal jika mereka gagal berkomunikasi dengan orang lain atau secara konsisten tidak dapat diprediksi dalam tindakan mereka.
Models Of Abnormality
Model yang digunakan untuk menjelaskan dan mengenali kelainan psikologis. Dengan ini akan membantu mengetahui penyebab maupun cara penanganan gangguan psikologis.
a. The Biological Model
Model ini menyatakan bahwa gangguan psikologis memiliki penyebab biologis atau medis (Gamwell & Tomes, 1995). Model ini dianggap seperti paresis umum atau kelainan yang dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh kuman, gen, biokimia, neuroanatomi. Model ini lebih menonjol dari pada yang lain karena sebagian besar ketersediaan perawatan medis, kemudahan perwatan kimia dan gagasan bahwa menggap orang yang menunjukkan kelainan menjadi sakit dapat mengurangi stigma yang sering dikaitkan dengan kelainan.
b. The Psychology Models
Model psikologis ini menjelaskan tentang perilaku yang tidak teratur sebagai akibat dari berbagai bentuk gangguan fungsi emosional, perilaku, atau yang berhubungan dengan pikiran.
1. Psychodynamic View
Psikodinamik ini menganggap proses psikologis alam bawah sadar bertanggung jawab atas kelainan. Dalam istilah kelainan adalah hasil dari trauma yang dipisahkan. Sebagai akibat dari penekanan pikiran, ingatan dan kekhawatiran yang mengancam seseorang dari perilaku yang tidak teratur.
2. Behaviorism: Learning Problems
Memandang perilaku abnormal dengan cara yang sama seperti memandang perilaku lainnya yang ditentukan oleh lingkungan. Masalah ini tidak dilihat dari gejala yang ringan saja tetapi dilihat dari masalah yang ada di dalam diri mereka sendiri.
3. Cognitive Perspective: Thinking Problems
Dalam pandangan ini, pemikiran irasional atau maladitif lah yang menciptakan ketidaknormalan. Pada umumnya pemikiran ini dapat berupa kognisi yang lebih jangka pendek seperti harapan, penilaian, atribusi, atau kognisi jangka panjang seperti keyakinan atau filosifi hidup.
c. The Sociocultural Perspective
Dalam persepktif sosial budaya ini hanya berfokus pada hubungan antara perilaku sosial dan budaya, dalam psikopatologi, perspektif dimana pemikiran atau perilaku abnormal maupun perilaku normal yang merupakan pembentukan perilaku yang dipengaruhi oleh keluarga, kelompok sosial dimana seorang bearada, dan budaya disekitarnya. Konseptualisasi budaya dan pengaruhnya terhadap fungsi psikologis dapat dijelaskan oleh tiga konsep yaitu: cultural syndromes, cultural idioms of distress, and cultural explanations or perceived cause (American Psychiatric Association, 2013).
- Cultural syndromes: istilah ini dikenal sebagai serangkaian gejala atau karakteristik penderita yang berbeda.
- Cultural idioms of distress: istilah ini mendeskripsikan penderita dalam konteks budaya tertentu.
- Cultural explainations or perceived cause: istilah yang mendefinisikan bahwa budaya menjelaskan sumber gejala maupun penyakit.
d. Biopsychosocial Perspective: All of the above
Biopsikososial ini menunjukkan pengaruh biologis, psikologis, dan sosial budaya yang signifikan terlibat dalam perkembangan dan pemeliharaan kelainan. Peran relatif yang dimainkan oleh setiap rangkaian faktor tergantung dengan masalah yang dialami. Bagaimana menerima budaya tertentu dari gangguan akan berperan dalam menentukan tingkat yang tepat dan bentuk gangguan yang mungkin terjadi itu dikenal sebagai model gangguan biopsikososial yang telah menjadi cara yang sangat berpengaruh untuk melihat hubungan antara pikiran dan tubuh.
DSM-IV TR
DSM berguna untuk membantu psikolog dengan benar mengidentifikasi gangguan psikologis dan mengobatinya dengan terapi terbaik (First & Pincus, 2002). Gangguan psikologis merupakan gangguan yang signifikan dalm fungsi psikologis. Masalah psikologi diklasifikasikan dengan menggunakan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV- TR, 2002).
a. Categories in the DSM-IV-TR
Melalui penggunaan DSM-IV-TR dokter menentukan dalam memanifestasikan klien dan perilaku masalah dijelaskan sesuai melalui faktor tersembunyi. DSM-IV-TR memberikan defines, gejala, dan mencririkan gangguan mental (Hsuing, 2008). Ini termasuk gangguan kepribadian dan keterbelakangan mental. Seperti banyak penyakit, sistem diagnostik multi-aksial dapat membantu menegakkan diagnosis, tetapi banyak diagnosis memerlukan definisi multi-aksial. DSM-IV-TR juga membagi penyakit menjadi lima kategori atau sumbu yang berbeda berdasarkan fakta yang relevan tentang orang yang didiagnosis.
- Axis I: Gangguan klinis atau kondisi lain yang membutuhkan segara perawatan klinis.
- Axis II: Gangguan kepribadian atau penghambatan mental sumbu, Sekarang bisa disebut disabilitas intelektual.
- Axis III: Kondisi medis umum seperti diabetes, penyakit jantung, dan lain-lain.
- Axis IV: Masalah psikososial dan lingkungan, seperti penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan, keluarga disfungsional, dan lain-lain.
- Axis V: Penilaian global skala fungsi. Penilaian peneliti tentang kemampuan seseorang untuk mengatasi kehidupan normal.
b. The Pros and Cons of Labels
DSM-IV-TR membantu profesional psikologis mendiagnosis pasien dan memberikan label pada pasien yang menjelaskan kondisi mereka. Dalam diagnosis dan perawatan label seperti depresi, kecemasan, dan skizofrenia, label-label tersebut sangat membantu. Label-label tersebut menjadi bahasa yang sama dalam komunitas kesehatan mental, memungkinkan para profesional psikologis untuk berkomunikasi satu sama lain secara jelas dan efisien. Selain itu label menetapkan kategori diagnostik yang berbeda yang dikenali dan dipahami oleh semua profesional, dan membantu pasien menerima perawatan yang efektif.
Anxiety Disorders
Anxiety Disorders atau yang lebih dikenal dengan gangguan kecemasan merupakan gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang merasa cemas secara berlebihan dan bersifat tidak realistis (Ciccarelli & Nolland, 2012).
Para ahli pun ikut serta mengemukakan pendapat mengenai pengertian Kecemasan. Diantaranya:
- Kecemasan itu sendiri merupakan suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid dkk., 2005).
- Kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman, atau sepertinya datang tanpa ada penyebabnya yaitu, bila bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan (Nevid dkk., 2005).
Secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa gangguan kecemasan atau anxiety disorders memiliki dua arti penting antara lain: anxiety disorders merupakan gangguan kesehatan mental dan anxiety disorders merupakan membuat penderitanya mengalami kecemasan secara berlebihan.
Orang dengan masalah yang berhubungan dengan kecemasan akan merasa terancam dan sering tidak dapat melakukan sesuatu yang konstruktif. Penderita gangguan ini akan berjuang untuk mengendallikan diri, tetapi mereka tetap tidak efektif dan tidak Bahagia (Rachman, 2004).
Pada dasarnya kecemasan adalah emosi yang normal. Namun, kecemasan ini menjadi masalah Ketika kecemasan yang intens mencegah orang melakukan apa yang mereka inginjan atau butuhkan dan kecemasan yang dirasakan tidak terkendali bahkan tidak bisa menghentikan kecemasan itu.
a. Generalized Anxiety Disorder
Generalized Anxiety Disorder atau yang dikenal dengan gangguan kecemasan umum merupakan suatu gangguan kecemasan yang ditandai dengan perasaan cemas yang umum dan biasanya dirasakan setidaknya selama 6 bulan. Penderita biasanya mengeluh berkeringat, jantung berdebar, tangan berkeringat, pusing, sakit perut, napas cepat, mudah marah dan memiliki konsentrasi yang buruk. Secara keseluruhan, penderita gangguan ini lebih banyak pada wanita daripada pria (Brown & Barlow, 2007).
b. Panic Disorder (Without Agoraphobia)
Panic Disorder (without Agoraphobia) merupakan suatu gangguan yang membuat penderitanya sangat cemas dan juga merasakan kepanikan yang tiba-tiba, inten dan tidak terduga. Selama serangan panik ini, penderitanya mengalami nyeri dada, jantung berdebar kencang, pusing, tersedak, gemetar, halusinasi dan takut kehilangan. Penderita gangguan ini mayoritas dialami oleh wanita (foot & koczycki, 2004).
c. Panic Disorder (With Agoraphobia)
Panic Disorder (With Agoraphobia) merupakan suatu gangguan dimana penderitanya mengalami kecemasan kronis dan panik tiba- tiba. Selain itu, penderita gangguan panik dengan agoraphobia memiliki rasa takut yang kuat terhadap tempat umum atau situasi asing. Artinya penderita fobia agora ini sangat takut meninggalkan rumah atau lingkungan sekitarnya. Biasanya, mereka menemukan cara untuk menghindari tempat-tempat yang menakutkan bagi mereka seperti, jalan terbuka, pasar dan sebagainya. Akibatnya, penderita agoraphobia menjadi seperti tahanan di rumahnya sendiri (DSM-IV-TR, 2000).
d. Agoraphobia
Agoraphobia ini juga dapat terjadi tanpa mengalami rasa panik. Gangguan ini ditandai dengan serangan pusing, diare, atau sesak napas tiba-tiba jika mereka berada di keramaian seperti, pergi keluar rumah sendirian, berdiri didalam antrean, menyebrangi jembatan atau mengemudi sendirian (DSM-IV-TR-2000). Sekitar 4,2% dari semua orang dewasa yang menderita agoraphobia dengan atau tanpa panik selama hidup mereka (Grant, 2006).
e. Specific Phobia
Fobia merupakan ketakutan yang intens dan irrasional yang tidak dapat dihilangkan oleh seseorang, bahkan ketika tidak ada bahaya yang nyata. Dalam fobia spesifik, ketakutan dan kecemasan difokuskan pada objek, aktifitas, atau situasi tertentu. Orang yang terkena gangguan ini menyadari bahwa ketakutan yang mereka miliki tidak masuk akal, tetapi mereka tetap tidak dapat mengendalikannya. Misalnya, seseorang yang takut atau memiliki fobia terhadap buaya akan merasa mustahil untuk dapat mengabaikan gambar buaya meskipun ia tahu bahwa foto tidak dapat mengigitnya (Miltner et al., 2004). Phobia spesifik ini dapat dikaitkan dengan hampir semua objek ataupun situasi.
f. Social Phobia
Social phobia merupakan gangguan dimana penderitanya takut akan situasi Ketika diamati, dievaluasi, dipermalukan, atau dihina oleh orang lain. Hal ini menyebabkan penderitanya menghindari situasi sosial tertentu, seperti berbicara di depan umum. Biasanya mereka mengalami gejala fisik yang tidak nyaman, seperti jantung berdebar-debar, tangan gemetar, berkeringat, diare dan wajah memerah. Gangguan ini sangat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan aktifitas dan membangun relasi (DSM- IV-TR, 2000).
Somatoform Disorders\
Somatoform Disorders merupakan Gangguan somatoform Gejala fisik yang menyerupai penyakit atau cedera yang tidak ada penyebab fisik yang dapat diidentifikasi. Gangguan somatoform terjadi ketika seseorang memiliki gejala fisik yang menyerupai penyakit atau cedera (misalnya kelumpuhan, kebutaan, penyakit, atau nyeri kronis), yang tidak dapat diidentifikasi penyebab fisiknya.
Berikut macam dari gangguan somatoform:
a. Hypochondriasis
Hipokondria juga dikenal dengan kecemasan kesehatan merupakan keadaan di mana seseorang memiliki keyakinan penuh bahwa mereka mempunyai penyakit fisik parah yang dialaminya meskipun tidak adanya penyebab medis yang ditemukan (Olatunji dkk., 2009). Seligman, Walker, dan Rosenhan (2001) Hipokondriasis merupakan bentuk gangguan somatoform yang berada pada kondisi individu yang memiliki keyakinan akan derita sebuah penyakit tertentu.
b. Conversion Disorders
Gangguan konversi (conversion disorders) merupakan gangguan di mana fungsi fisik pada manusia tidak berjalan dengan baik disertai dengan gejala neurologis yang berkaitan dengan fungsi motorik ataupun sensoris (Pitawati, 2018).
c. Gangguan Dismorfik Tubuh
Gangguan ini ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
d. Gangguan Nyeri
Gangguan ini ditandai oleh gejala nyeri yang sematamata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis
Dissociative Disorders: Altered Consiousness
Dissociative Disorders merupakan gangguan dimana penderitanya memiliki dua atau lebih identitas yang berbeda. Terdapat 3 tipe dissociative disorders, yaitu :
a. Dissociative Amnesia
Dalam gangguan Dissociative Amnesia, penderitanya mengalami kesulitan dalam mengingat informasi yang bersifat pribadi yang diakibatkan oleh stress atau trauma tertentu. Gangguan ini lebih mengarah kegangguan psikologis dibandingkan gangguan fisik.
b. Dissociative Fugue
Fugue Disosiatif berasal dari bahasa latin yaitu fugue yang memiliki arti melarikan diri. Penderita gangguan ini ketika melakukan perjalanan biasanya tidak mampu mengingat Kembali jalan yang ia tempuh ataupun sering kesulitan untuk mengingat kembali informasi-informasi sebelumnya bahkan bingung dengan identitas pribadinya.
c. Dissociative Identity Disorder
Gangguan identitas disosiatif ini merupakan sebuah gangguan disosiatif dramatis dimana penderita merasakan dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang terpisah dalam satu tubuh. Gangguan ini sebelumnya dikenal sebagai gangguan kepribadiaan ganda (Ciccarelli & Nolland, 2012).
Mood Disorders: The Effect Of Affect
Mood disorders berkaitan dengan suasana hati, dimana penderita gangguan ini mengalami perubahan suasan hati ekstrem dalam waktu yang singkat. Salah satu gangguan psikologis yang terkait dengan mood disorders adalah bipolar, (Choresyo dkk., 2015) penderita bipolar dapat merasakan rasa senang yang luar biasa dan tiba-tiba merasa depresif dikarenakan gangguan atas perubahan suasana hati penderita, mereka merasa tidak jelas atas apa yang mereka rasakan, gangguan ini dapat merusak emosi dan lingkungan sosial penderitanya. Mood disorders juga dialami oleh orang-orang yang depresi berat dan beberapa penyakit mental lainnya. Mood disorders ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Depressive Disorders
ini merupakan gangguan emosional yang melibatkan kesedihan, keputusasaan dan depresi. Depressive disorders meliputi:
1. Major Depressive Disorder
Gejala utama yang dirasakan penderita gangguan yaitu depresi emosional yang ekstrem selama minimal 2 minggu. Gangguan ini ditandai dengan rasa sedih, tidak berharga, Lelah, hampa, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri.
2. Dysthymic Disorder
Penderita gangguan ini biasanya mengalamai gelaja seperti suasana hati yang cukup tertekan hampir setiap hari selama 2 tahun terakhir. Ketika mengalami ganguan ini penderita merasa sedih dan terteka berlebihan dan merasa tidak berharga selama berbulan- bulan.
b. Bipolar Disorders
Gangguan bipolar ini merupakan gangguan emosional yang melibatkan depresi dan mania atau hipomania. Bipolar disorders ini meliputi:
1. Bipolar I Disorders
Ditandai dengan munculnya gejala depresi dan disertai dengan tidur yang berlebihan, banyak bicara,
bersemangat namun secara tiba-tiba merasa sangat sedih dan tidak berharga.
2. Bipolar II Disorders
Gangguan ini biasanya ditandai dengan mengalami depresi emosional dan setidaknya mengalami satu periode mania ringan. Pada saat mengalami gangguan ini si penderita merasakan perasaan sedih, tidak berharga, lelah dan hampa. Namun pada gangguan bipolar II ini terjadi kegembiraan dan depresi, tetapi mania orang tersebut tidak separah pada gangguan bipolar I.
Schizophrenia Disorders
Schizophrenia Disorders merupakan gangguan yang berkaitan dengan emosi, tingkah laku dan kemampuan kognitif seseorang. Schizophrenia disorders ini mengganggu keyakinan dan persepsi individu dengan menimbulkan gejala yang tidak wajar akibat peningkatan dopamin di otak. Schizophrenia disorders ditandai dengan delusinasi, halusinasi, apatis, kelainan berpikir dan perpecahan antara pikiran dan emosi. Tipe-tipe dari Schizophrenia meliputi:
a. Disorganized type: Schizophrenia ditandai dengan incoherensi, perilaku yang sangat tidak teratur, pemikiran yang aneh dan emosi yang datar atau sangat tidak pantas.
b. Catatonic type: Schizophrenia ditandai dengan pingsan, kekakuan, tidak responsif dan kadang merasa gelisah.
c. Paranoid type: Schizophrenia ditandai dengan halusinasi pendengaran.
d. Undifferentiated type: Schizophrenia dengan gejala psikotik yang menonjol tetapi tidak ada ciri spesifik katatonik, disorganisasi, atau paranoid
Penyebab dari schizophrenia disorders yaitu:
- Lingkungan, menjadi salah satu factor penyebab schizophrenia disorders. Misalnya, ketika anak-anak dari orang tua penderita skizofrenia dibesarkan jauh dari lingkungan rumah mereka yang kacau, mereka masih cenderung menjadi psikotik (Walker et al.,2004).
- Keturunan, tampaknya beberapa individu mewarisi potensi untuk mengembangkan skizofrenia. Dengan kata lain, mereka lebih rentan terhadap gangguan (Harrison & Weinberger, 2005; Walker et al., 2004).
- Brain Chemistry, amfetamin, LSD, PCP, dan obat-obatan serupa menghasilkan efek yang sebagian meniru gejala skizofrenia dosis cenderung meringankan gejala psikotik.
Personality Disorders
Kepribadian adalah karakteristik yang melekat pada diri individu. Sedangkan Personality disorders atau gangguan kepribadian merupakan pola kepribadian yang tidak sehat, penderita biasanya berperilaku secara berulang kali yang menyebabkan masalah pada lingkungan sekitarnya.
Personality disorders ini dapat juga diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang menjalin hubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan lingkungan dan norma yang ada, perilaku menyimpang yang menjadi kebiasaan dari penyebab tersebut kemudian membentuk gangguan-gangguan pada kepribadian seseorang. Jenis-jenis dari gangguan kepribadian yaitu: ketergantungan, histrionic, narsistik, antisosial, paranoid, dan lain-lain.

Comments
Post a Comment