Terapi Psikologis #14

Assalamualaikum wr wb

Perkenalkan nama aku Dinda Junika nim 2110323014 dari Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada pertemuan ke-14 ini kita akan membahas tentang "Terapi Psikologis"

Dua Jenis Metode Terapi Utama

    Dalam menyembuhkan seseorang yang terkena penyakit atau gangguan mental, para ahli menggunakan metode terapi. Terapi adalah metode pengobatan yang dilakukan untuk membuat seseorang merasa lebih baik dan berfungsi secara efektif. Ada dua jenis metode terapi utama yang masih dipergunakan hingga saat ini, yaitu psikoterapi dan terapi biomedis. 

    Metode yang pertama yaitu Psikoterapi. Psikoterapi didasarkan pada teori dan teknik psikologis; orang memberitahu terapis tentang masalah mereka, dan terapis mendengarkan dan mencoba membantu mereka memahami masalah tersebut atau membantu mereka dalam mengubah perilaku yang terkait dengan masalah tersebut. Psikoterapi biasanya melibatkan individu, pasangan, atau kelompok kecil yang bekerja secara langsung dengan terapis dan mendiskusikan masalah mereka. Tujuan dari sebagian besar psikoterapi adalah untuk membantu orang yang sehat secara mental dan psikologis untuk memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik. Dalam psikoterapi terbagi lagi menjadi dua jenis metode, yaitu insight therapy yang difokuskan pada memahami motif dan tindakan seseorang, dan action therapy yang memfokuskan pada perubahan perilaku bukan sekedar alasan dari perilaku tersebut. Pada penggunaannya, banyak psikologis professional menggunakan kombinasi dari insight therapy dan action therapy sebagai satu kesatuan. 

    Metode yang kedua yaitu Terapi Biomedis. Terapi Biomedis menggunakan intervensi medis untuk mengendalikan gejala psikologis. Terapi biomedis termasuk penggunaan obat-obatan, metode bedah, perawatan sengatan listrik, dan teknik stimulasi non-invasif. Penting untuk dipahami bahwa terapi biomedis sering menghilangkan atau meringankan gejala gangguan, sementara psikoterapi menangani masalah yang terkait dengan gangguan tersebut, dan ketika digunakan bersama-sama, kedua jenis terapi ini saling memfasilitasi Misalnya, ketika obat-obatan dibutuhkan, individu yang meminum obat yang tepat akan mendapat manfaat lebih dari psikoterapi, karena gejalanya akan lebih baik dikendalikan. Selanjutnya, psikoterapi, yang bukan menggunakan obat-obatan, akan membantu mereka lebih memahami gangguan mereka dan memfasilitasi penyesuaian diri terhadap gangguan mental yang dialami. 

Jenis – Jenis Psikoterapi

1. Psikoanalisis

    Metode psikoanalisis disampaikan oleh Freud, dimana pada saat itu Freud percaya bahwa pasiennya menggunakan pikiran alam bawah sadar untuk mencegah kecemasan sehingga pikiran tidak akan mudah dibawa menuju ke kesadaran. Pasien Freud biasanya berbaring di sofa selama terapi, sementara Freud duduk ditempat yang tidak terlihat, mencatat, dan menawarkan interpretasi. Psikoanalisis merupakan terapi wawasan yang menekankan pengungkapan konflik, dorongan, dan keinginan yang bercampur aduk untuk menyebabkan emosi dan perilaku yang tidak teratur (Freud,1904,Michell&Black, 1996). Freud menggunakan tiga teknik untuk mencoba mengungkap informasi yang ditekan dalam pikiran bawah sadar pasiennya, yaitu:

1. Interpretasi Mimpi

    Freud percaya bahwa mimpi memberikan jalan menuju alam bawah sadar yang menyamarkan perasaan yang tidak dapat diterima secara sadar dan keinginan terlarang dalam bentuk mimpi. Interpretasi mimpi atau analisis unsur-unsur dalam mimpi pasien yang dilaporkan membentuk sebagian besar metode psikoanalitik Freud. Freud percaya bahwa materi yang ditekan akan sering muncul di mimpi, meskipun dalam bentuk simbiolis. Isi manifes dari mimpi tersebut yaitu tentang mimpi dan peristiwanya, tetapi latennya adalah makna simbiolis yang tersembunyi dari mimpi tersebut, jika ditafsirkan dengan benar akan mengungkapkan konflik bawah sadar yang menciptakan gangguan saraf (Freud, 1990).

    Tugas psikoanalisis adalah membantu pasien bekerja melewati makna mimpi yang jelas dan terlihat (konten manifes) untuk mengungkapkan sarang tersembunyi (konten laten). Hal ini dicapai dengan menganalisis simbol mimpi (gambar yang memiliki makna pribadi atau emosional). Contoh, seorang pemuda bermimpi menarik pistol dari ikat penggangnya dan membidik sasaran, sementara istrinya mengawasi. Pistol itu berulang kali gagal untuk dilepaskan dan istri pria itu menertawakannya. Freud melihat ini sebagai indikasi tertindas perasaan impotensi seksual, dengan pistol berfungsi sebagai penyamaran gambar penis.

2. Asosiasi Bebas

    Metode asosiasi bebas merupakan salah satu teknik lain untuk mengungkapkan pikiran bawah sadar yang dirancang oleh rekan kerja Freud yaitu Josef Breuer (Breuer & Freud, 1895). Pasien Breur didorong untuk bebas mengatakan apa pun yang terlintas didalam pikiran mereka tanpa takut dievaluasi secara negatif atau dikutuk. Ketika pasien berbicara, mereka mulai mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan alur gagasan mereka dan mengungkapkan apa yang menurut Breur sebagai sesuatu yang tersembunyi dan tidak disadari. Freud mengadopsi teori asosiasi bebas ini, percaya bahwa impuls yang ditekan dan materi lainnya mencoba untuk “melepaskan” kesadaran dan akhirnya akan muncul menggunakan teknik ini. Tujuan dari asosiasi bebas adalah untuk menurunkan pertahanan sehingga pikiran dan perasaan bawah sadar dapat muncul.

3. Resistensi dan Transferensi

    Komponen lain dari metode psikoanlisis Freud yang asli adalah resistensi (titik dimana pasien menjadi tidak bersedia untuk berbicara tentang topik-topik tertentu) dan tranferensi (ketika ahli terapi menjadi simbol figur otoritas orang tua dari masa lalu). Para terapis juga dapat mengalami reaksi transferensi terhadap pasien. Reaksi ini tidak selalu menguntungkan pasien. Seperti dalam semua pendekatan terapeutik, pengawasan rekan dan professional membantu terapis mengenali potensi masalah dalam memberikan terapi yang efektif.

Evaluasi Pendekatan Psikoanalisis dan Psikodinamik

    Teori asli Freud dikritik karena memiliki beberapa kekurangan, seperti kurangnya penelitian ilmiah untuk mendukung pendapatnya, keenganannya untuk mempercayai beberapa hal yang diungkapkan oleh pasiennya ketika pendapat itu tidak sesuai dengan pandangannya tentang dunia, dan kebutuhan obsesif nya untuk berasumsi bahwa masalah dengan seks dan seksualitas berada pada titik utama yang dekat dengan gangguan saraf. Beberapa psikoanalis pada saat ini tetap menggunakan metode asli Freud. Metode ini bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan hasil. Psikoanalis modern lebih banyak memberi arahan, mengajukan pertanyaan, menyarankan perilaku yang berguna, dan memberikan pendapat serta interpretasi lebih awal dalam hubungan yang membantu mempercepat proses terapi. Para psikoanalisis pada saat ini kurang fokus pada identitas sebagai motivasi perilaku, sebaliknya melihat lebih pada ego atau perasaan diri sebagai kekuatan pendorong di balik semua tindakan. Beberapa psikoanalis lebih fokus pada proses transferensi daripada aspek khas lainnya dari psikoanalisis tradisional yang mengarah ke metode lebih umum disebut terapi psikodinamik. Terapi psikodinamik lebih singkat durasinya daripada analisis psiko tradisional, selain itu terapi psikodinamik mengharuskan klien untuk cerdas dan mampu secara verbal mengungkapkan ide, perasaan, dan pikirannya secara efektif. Orang yang menderita gangguan psikotik yang lebih parah bukanlah kandidat yang baik untuk bentuk piskoterapi ini. Orang yang mendapatkan manfaat dari terapi psikodinamik yaitu orang yang memiliki gangguan peyesuaian non-psikotik seperti gangguan amoiety, somatoform, atau disosiatif.

Psikoterapi Interpersonal

    Psikoterapi interpersonal merupakan psikoterapi yang dikembangkan untuk mengatasi sebuah depresi. Psikoterapi ini adalah terapi wawasan yang berfokus pada hubungan individu dengan orang lain dan interaksi antara suasana hati dan peristiwa kehidupan sehari-hari. Hal ini didasarkan pada teori interpersonal Adolph Meyer dan Harry Stack Sullivan bersama dengan teori lampiran John Bowlby dan berfokus pada hubungan interpersonal dan fungsi (Bleiberg & Markowitez,2008). Psikoterapi interpersonal tidak dianggap sebagai terapi psikodinamik karena menggabungkan aspek terapi humanistik dan kognitif-behavior.

Terapi Humanistik

    Tidak seperti terapis psikodinamik, ahli teori humanistik tidak fokus pada ketidaksadaran. Sebaliknya, kaum humanis fokus pada pengalaman emosi dan perasaan subjektif yang sadar dan subjektif, serta pengalaman yang lebih langsung dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

    Terapi Humanistik menekankan pentingnya pilihan yang dibuat oleh individu dan potensinya untuk mengubah perilaku seseorang. Dua gaya terapi yang paling umum berdasarkan humanistik teori adalah terapi berpusat pada orang oleh Carl Rogers dan terapi Gestalt oleh Fritz Perls; keduanya merupakan terapi wawasan. 

    Terapi Berpusat pada Rogers membahas elemen dasar teori kepribadian Rogers, yang menekankan rasa diri. Singkatnya, Rogers mengusulkan setiap orang memiliki diri yang sebenarnya (bagaimana orang melihat sifat dan kemampuan mereka yang sebenarnya) dan diri ideal (bagaimana orang berpikir mereka seharusnya). Semakin dekatnya antara diri sebenarnya dan diri ideal seseorang, orang yang lebih bahagia dan lebih baik menyesuaikan diri. Agar kedua konsep diri ini cocok, orang perlu menerima penghargaan positif tanpa syarat, yaitu cinta, kehangatan, rasa hormat, dan kasih sayang tanpa syarat apapun. Jika orang berpikir bahwa ada syaratnya pada cinta dan kasih sayang yang mereka terima, diri ideal mereka akan ditentukan oleh kondisi mereka dan menjadi lebih sulit untuk dicapai, mengakibatkan ketidaksesuaian diri dan ketidakbahagiaan. 

    Rogers percaya bahwa tujuan terapis adalah memberikan penghargaan positif tanpa syarat yang telah absen dari kehidupan orang yang bermasalah dan untuk membantu orang tersebut mengenali perbedaan antara diri yang nyata dan ideal. Dia juga percaya bahwa orang sebenarnya harus melakukan sebagian besar pekerjaan, membicarakan masalah dan kekhawatiran dalam suasana kehangatan dan penerimaan dari terapis, sehingga ia awalnya disebut orang dalam terapi ini hubungan "klien" bukan "pasien," untuk menempatkan terapi hubungan pada pijakan yang lebih setara. Akibatnya, terapi Rogers sangat tidak terarah karena orang tersebut benar-benar melakukan semua pekerjaan yang sebenarnya, dengan terapis hanya bertindak sebagai papan suara.

Evaluasi Terapi Humanistik

    Terapi humanistik telah digunakan untuk mengobati gangguan psikologis, membantu orang membuat pilihan karir, menangani masalah tempat kerja, dan menasihati pasangan yang sudah menikah. Terapi yang berpusat pada orang khususnya bisa menjadi bentuk terapi yang sangat “lepas tangan”. Sayangnya, terapi humanistik memiliki beberapa kelemahan yang sama seperti psikoanalisis Freud dan bentuk lain dari terapi psikodinamik modern. Ada sedikit penelitian eksperimental untuk mendukung ide-ide dasar yang mendasari jenis terapi ini, tetapi humanis selalu lebih suka menggunakan studi kasus untuk membangun teori mereka. Orang harus cerdas, verbal, dan mampu mengungkapkan pikiran, perasaan,dan pengalamannya secara cara logis, yang membuat terapi humanistik pilihan yang agak kurang praktis untuk mengobati gangguan mental yang lebih serius seperti skizofrenia.

Terapi Behavior

    Konsep dasar behaviorisme yaitu bahwa semua perilaku abnormal dipelajari melalui proses pengkondisian klasik yang sama. Berbeda dengan terapi psikodinamik dan humanistik, terapi behaviorisme lebih didasarkan pada tindakan daripada wawasan. Tujuannya yaitu untuk mengubah perilaku melalui penggunaan jenis teknik pembelajaran sama dengan yang digunakan manusia dan hewan untuk mempelajari respons baru. Perilaku abnormal tidak dilihat sebagai gejala daru hal lain melainkan masalah itu sendiri. Pembelajaran yang baru dapat memperbaiki sebuah kesalahan yang di dapat dari pembelajaran sebelumnya. Ada beberapa macam terapi behavior, antara lain;

Terapi berdasarkan Kondisi Fisik

    Pengkondisian klasik adalah pembelajaran respons yang tidak disengaja dengan cara memasangkan stimulus yang biasanya menyebabkan respons tertentu dengan stimulus baru yang netral. Setelah pasangan stimulus cukup, stimulus baru juga akan menyebabkan terjadinya respons. Melalui pengkondisian klasik, respons otomatis yang lama dan tidak diingikan dapat digantikan oleh respons yang diinginkan. Ada beberapa teknik yang telah dikembangkan dengan menggunakan jenis pembelajaran ini untuk mengobati gangguan seperti fobia, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif.

Desensitisasi Sistematis

    Desensitasi sistematis yaitu terapis yang memandu klien melalui serangkaian langkah yang dimaksudkan untuk mengurangi rasa takut dan kecemasan, biasanya digunakan untuk mengobati gangguan fobia. Terdapat tiga langkah dalam proses ini yaitu pertama, klien harus belajar relaks melalui latihan relaksasi otot dalam, selanjutnya, klien dan terapis menyusun daftar, dimulai dengan objek atau situasi yang menghasilkan tingkat ketakutan terbesar, terakhir, dibawah bimbingan terapis, klien mulai dari item pertama dalam daftar yang menyebabkan ketakutan minimal melihatnya, memikirkannya, atau benar-benar menghadapinya, tetap dalam keadaan santai.

Terapi Aversi

    Terapi aversi adalah cara lain untuk menggunakan pengkondisian klasik dengan mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan, seperti merokok atau makan berlebihan, dengan mengajarkan klien untuk memasangkan stimulus permusuhan (tidak menyenangkan) dengan stimulus yang menghasilkan respons yang tidak diinginkan. Contoh, seseorang yang ingin berhenti merokok mungkin pergi ke terapis yang menggunakan teknik merokok cepat, dimana klien diperbolehkan merokok tetapi harus mengisap rokoknya setiap 5 atau 6 detik karena nikotin adalah racun, merokok secara cepat akan menyebabkan mual dan pusing, keduanya merupakan efek yang tidak menyenangkan.

Terapi Paparan (Eksposur)

    Terapi eksposur merupakan teknik terapi yang memperkenalkan klien pada situasi dibawah kondisi yang dikendalikan dengan baik, yang berkaitan dengan kekhawatiran atau rasa takut. Ekposur dapat dicapai melalui berbagai rute dan dimaksudkan untuk mempromosikan pembelajaran baru. Hal tersebut dapat terjadi dalam kehidupan (in vivo), tempat sang klien berhadapan dengan rangsangan yang sebenarnya berkaitan dengan kecemasan, imaginal, dimana klien memvisualisasikan atau membayangkan stimulus, dan teknologi yang digunanakan yaitu teknologi virtual reality (VR). Contoh, jika seseorang memiliki gangguan kecemasan sosial karena paparan in vivo, ia harus menghadiri acara sosial, untuk eksposur imajiner ia mungkin diminta untuk memvisualisasikan dirinya menghadiri acara sosial, untuk eksposur virtual, ia mungking mengalami acara sosial, seperti menghadiri pesta makan malam, melalui teknologi VR. Metode eksposur dapat memperkenalkan stimulus yang ditakuti secara bertahap atau cukup tiba-tiba. Eksposur bertahap atau bertingkat melibatkan klien dan terapis yang mengembangkan hierarki ketakutan seperti dalam desensitisasi sistematis. Eksposur dimulai pada peristiwa yang paling tidak ditakuti dan berlanjut hingga yang paling ditakuti, mirip dengan desensitasi. 

Terapi berdasarkan Kondisi Operan    

    Teknik pengkondisian operan meliputi penguatan, pemadaman, pembentukan, dan pemodelan untuk mengubah frekuensi perilaku sukarela. Tujuan pengobatan gangguan psikologis adalah untuk mengurangi frekuensi perilaku yang tidak diinginkan dan meningkatkan frekuensi respons yang diinginkan. Salah satu keuntungan menggunakan pengkondisian operan untuk menangani perilaku bermasalah yaitu hasil yang diperoleh lebih cepat daripada harus menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan bentuk terapi yang lebih berorientasi pada wawasan.

• Pemodelan

    Penggunaan pemodelan sebagai terapi didasarkan pada karya Albert Bandura yang menyatakan bahwa seseorang dengan ketakutan tertentu atau seseorang yang perlu mengembangkan keterampilan sosial dapat belajar melakukannya dengan melihat orang lain (model) menghadapi ketakutan tersebut atau menunjukkan keterampilan sosial yang dibutuhkan. Klien didorong oleh terapis untuk meniru model secara bertahap, langkah demi langkah yang sama. Modelnya bisa berupa seseorang yang benar-benar hadir di ruangan yang sama dengan klien atau seseorang yang dilihat di video. Contoh, seorang model mungkin pertama-tama mendekati seekor anjing, lalu menyentuh anjing itu, setelah itu membelai anjing itu, dan akhirnya memeluk anjing itu. Seorang anak atau orang dewasa yang takut anjing akan melihat proses ini dan kemudian didorong untuk mengulangi langkah-langkah yang ditunjukkan model.

• Menggunakan Penguatan (Using Reforcement)

    Penguatan dari respons dengan mengikuti beberapa konsekuensi yang menyenangkan (penguatan positif) atau penghapusan stimulus yang tidak menyenangkan (penguatan negatif). Penguatan kedua jenis ini dapat membentuk dasar untuk pengobatan orang dengan masalah perilaku.

• Ekonomi Token (Token Economies)

    Pada ekonomi token, benda yang dikenal sebagai token dapat ditukar dengan makanan, permen, hadiah, atau hak-hak istimewa. Klien mendapatkan token untuk perilaku yang benar atau mencapai tujuan perilaku dan kemudian dapat bertukar token untuk hal-hal yang mereka inginkan. Sesorang dapat kehilangan token karena perilaku yang tidak pantas. Ekonomi token telah digunakan dengan berhasil dan memodifikasi perilaku orang yang relative terganggu dalam institusi mental, seperti orang dengan skizofrenia atau orang depresi.

• Contingency Contracting (Kontrak Kontingensi)

    Kontrak ini merupakan kesepakatan resmi antara terapis dan klien (atau guru dan siswa, atau orang tua dan anak) dimana tanggung jawab dan tujuan kedua belah pihak dinyatakan dengan jelas. Kontrak ini berguna untuk menangani permasalahan spesifik seperti kecanduan narkoba, permasalahan pendidikan, dan gangguan makan. Karena tugas, hukuman, dan bantuan yang dinyatakan dengan jelas dan konsisten, kedua belah pihak selalu sadar akan konsekuensi dari bertindak atau gagal bertindak dalam spesifikasi kontrak, membuat bentuk perlakuan perilaku ini cukup efektif. Konsistensi adalah salah satu alat yang paling efektif dalam menggunakan baik imbalan maupun hukuman untuk membentuk perilaku.

• Menggunakan Kepunahan (Using Extinction)

    Kepunahan melibatkan penghapusan penguat untuk mengurangi frekuensi jumlah respons tertentu. Dalam memodifikasi perilaku, kepunahan operan sering kali melibatkan penghilangan perhatian seseorang dari orang tersebut ketika orang tersebut terlibat dalam perilaku yang tidak pantas atau tidak diinginkan. Pada anak-anak, penghilangan perhatian ini mungkin merupakan bentuk times-out, dimana anak dikeluarkan dari situasi yang memberikan penguatan. Pada orang dewasa, penolakan sederhana oleh orang lain di ruangan itu untuk mengakui perilaku tersebut sering kali berhasil dalam mengurangi frekuensi perilaku tersebut.

Evaluasi Terapi Perilaku

    Dalam mengobati masalah perilaku tertentu, seperti mengompol, makan berlebihan, kecanduan obat, dan reaksi fobia, lebih efektif mengobatinya menggunakan teknik terapi perilaku daripada bentuk terapi yang lain. Tetapi, gangguan psikologis yang lebih serius, seperti depresi berat atau skizofrenia, tidak merespon dengan baik secara keseluruhan terhadap pengobatan dengan terapi perilaku, meskipun perbaikan gejala spesifik dapat dicapai. Membawa gejala di bawah kendali merupakan langkah penting dalam memungkinkan seseorang untuk berfungsi secara normal di dunia sosial. Terpi perilaku adalah cara yang relatif cepat dan efisien untuk menghilangkan atau sangat mengurangi gejala tersebut. Namun, beberapa paradigma perilaku tidak sederhana untuk dibangun atau terus diterapkan, dan langkah-langkahnya harus diambil sehinggu perilaku adaptif dapat digeneralisasikan ke situasi lain dan dipertahankan di masa depan (Prochaska & Norcross, 2009)

Terapi Kognitif

    Terapi kognitif dikembangkan oleh Aaron T. Beck dan difokuskan untuk membantu orang mengubah cara berpikir mereka. Terpi kognitif berfokus pada pemikiran yang menyimpang dan keyakinan yang tidak realistis yang mengarah pada perilaku maladaptif, terutama distorsi yang berkaitan dengan depresi. Tujuan dari terapi kognitif adalah untuk membantu klien menguji dengan cara yang lebih objektif dan ilmiah, kebenaran keyakinan, dan asumsi mereka, serta atribusi mereka mengenai perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain dalam hidup mereka. Mereka dapat mengenali pikiran yang terdistorsi dan negatif serta menggantinya dengan pikiran yang lebih positif dan bermanfaat. Sebab fokusnya yaitu pada mengubah pikiran daripada memperoleh wawasan mendalam tentang penyebabnya, terapi semacam ini pada dasarnya ialah terapi tindakan.

    Terapi kognitif berfokus pada distorsi pemikiran. Ada beberapa distorsi pemikiran lebih umum yang dapat menciptakan hal negatif, perasaan, dan keyakinan yang tidak realitis pada orang, antara lain :

• Inferensi Sewenang-wenang

    Hal ini memaksudkan “langsung mengambil kesimpulan tanpa bukti”. Sewenang-wenang berarti memutuskan sesuatu berdasarkan tidak lebih dari keinginan. Contoh, “lala membatalkan kencan makan siang kita, saya berani bertaruh dia sedang berkencan dengan orang lain!”.

• Berpikir Selektif

    Dalam berpikir selektif, seseorang hanya berfokus pada satu aspek dari suatu situasi, tidak mengabaikan faka-fakta relevan lain yang mungkin membuat situasinya tampak kurang negatif. Contoh, dosen riri memuji makalah yang telah dibuatnya, tetapi memberikan satu komentar mengenai perlunya memeriksa tanda baca pada makalahnya. Riri menganggap bahwa makalah yang dibuat jelek dan dosennya tidak menyukainya, sehingga riri mengabaikan pujian yang lain dan komentar positif.

• Generalisasi yang Berlebihan

    Seseorang menarik kesimpulan menyeluruh dari suatu peristiwa yang dihadapinya dan kemudian berasumsi bahwa kesimpulan itu berlaku untuk bidang kehidupan yang tidak memiliki hubungan dengan peristiwa sebenarnya, serta cenderung membuat kesimpulan bahwa satu hal yang pernah terjadi pada dirinya akan terjadi kembali secara berulang kali. Contoh, jeje gagal dalam satu mata kuliah dan berpikir “saya tidak akan bisa berhasil dalam mata kuliah yang lain dalam semester ini dan saya akan gagal serta dikeluarkan dari kampus”.

• Pembesaran dan Minimalisasi

    Seseorang mengeluarkan hal-hal buruk secara tidak proporsional sementara tidak menekankan hal-hal yang baik. Contoh, seseorang yang selalu mendapatkan nilai bagus pada setiapujiannya percaya bahwa jika mendapatkan nilai yang rendah pada sebuah kuis terakhir berarti dia tidak akan berhasil di sekolah.

• Personalisasi

    Seorang individu bertanggung jawab atau disalahkan atas peristiwa yang tidak benar-benar berhubungan dengan individu tersebut. Contoh, ketika ayah raja pulang ke rumah dengan suasana hati yang buruk karena sesuatu terjadi di termpat kerjanya, raja langsung berasumsi bahwa ayahnya marah kepadanya.

    Seorang terapis kognitif mencoba membuat klient melihat keyakinan mereka dan mengujinya untuk melihat seberapa akurat mereka sebenarnya. Langkah pertama adalah mengidentifikasi keyakinan yang tidak logis atau tidak realistis yang dilakukan terapis dan klien dalam pembicaraan awal mereka. Kemudian klien di pandu oleh terapis melalui proses mengajukan pertanyaan tentang keyakinan itu, seperti “kapan keyakinan saya ini dimulai” atau “apa bukti untuk keyakinan ini?”. Terapi kognitif benar-benar pemikiran kritis yang diterapkan pada pikiran sendiri dan keyakinan. Psikologi kognitif tumbuh dari behaviorisme. Terapi menggunakan metode kognitif memiliki elemen perilaku dalam diri mereka  juga, yang mengarah ke istilah terapi kognitif-perilaku / cognitive behavioral therapy (CBT).

Terapi kognitif-behavior (CBT)

    Berfokus pada masa kini daripada masa lalu (seperti behaviorisme) tetapi juga mengasumsikan bahwa orang berinteraksi dengan dunia lebih dari sekedar reaksi otomatis terhadap rangsangan eksternal. Orang-orang mengamati dunia dan orang-orang di dunia sekitar mereka, membuat asumsi dan kesimpulan berdasarkan pengamatan atau kognisi tersebut, dan kemudian memutuskan bagaimana merespons. 

    Sebagai salah satu bentuk terapi kognitif, CBT juga mengasumsikan bahwa gangguan berasal dari kognisi yang tidak logis, irasional, dan megubah pola piker menjadi lebih rasional, logis, akan meredakan gejala gangguan. CBT memiliki tiga elemen dasar yaitu kognisi mempengaruhi perilaku, kognisi dapat diubah, dan perubahan perilaku dapat dihasilkan dari perubahan kognitif. Terapis perilaku kognitif juga dapat menggunakan salah satu alat yang digunakan terapis perilaku untuk membantu klien mengubah tindakan mereka. Tiga tujuan dasar dari setiap terapi kognitif- perilaku yaitu meredakan gejala dan membantu klien mengatasi masalahnya, membantu klien mengembangkan strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah di masa depan, dan membantu klien mengubah cara berpikir mereka dari irasional, pemikiran yang merugikan diri senidri menjadi pemikiran yang lebih rasional, membantu diri sendiri dan berpikir positif.

Ellis dan Terapi perilaku emosi rasional / Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)

    Albert Ellis mengusulkan versi CBT yang disebut terapi perilaku emosional rasional (REBT), dimana klien diajarkan cara untuk menentang keyakinan irasional mereka sendiri dengan lebih rasional dan membantu. Ada beberapa contoh keyakinan irasional yaitu setiap orang harus mencintai dan menyetujui saya (jika tidaj, saya buruk dan tidak dapat dicintai), ketikan sesuatu tidak berjalan seperti yang diinginkan dan direncanakan, itu mengerikan dan saya tetntu saja akan sangat terganggu. Terapi perilaku emosi rasional adalah tentang menantang jenis “cara saya atau pernyataan apa pun, membantu orang untuk menyadari bahwa hidup bisa menjadi baik tanpa menjadi sempurna. Dalam REBT, para terapis mengambil peran yang sangat tepat, menantang klien ketika klien membuat pernyataan seperti memberikan pr, menggunakan teknik perilaku untuk mengubah perilaku, dan berdebat dengan klien tentang rasionalisasi pernyataan mereka.

Evaluasi Terapi Kognitif dan Terapi Kognitif-Perilaku 

    Terapi kognitif dan kognitif-perilaku lebih ‘murah’ daripada terapi wawasan umum karena terapi ini bersifat jangka pendek. Seperti dalam  terapi perilaku, klien tidak perlu menggali terlalu dalam untuk sumber- sumber tersembunyi dari masalah mereka. Sebaliknya, terapi berbasis kognitif mendapatkan hak untuk masalah itu sendiri, membantu klien menangani gejala mereka secara lebih langsung. Bahkan, salah satu kritik terhadap terapi ini sekaligus menjadi terapi perilaku adalah bahwa mereka mengobati gejalanya, bukan penyebabnya. Namun, hal tersebut harus diperhatikan bahwa dalam sudut pandang kognitif, pikiran maladaptif  dipandang sebagai penyebab masalah, bukan hanya gejalanya. Ada juga unsur bias potensial karena pendapat terapis mengenai pemikiran mana yang rasional dan mana yang tidak. Terapi kognitif dan kognitif-perilaku memiliki keberhasilan yang cukup besar dalam mengobati berbagai jenis gangguan, termasuk depresi, gangguan stres, gangguan makan, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, dan beberapa jenis skizofrenia. Sebagai cabang daru behaviorisme, prinsip-prinsip pembelajaran yang menjadi dasar kognitif, terapi perilaku dianggap baik secara empiris

Terapi Kelompok

    Terapi kelompok merupakan alternatif terapi individu, di mana klien dan terapis memiliki sesi pribadi, satu-satu, dan nantinya sekelompok klien dengan masalah yang sama berkumpul bersama-sama untuk mendiskusikan masalah mereka di bawah bimbingan terapis tunggal (Yalom, 1995). 

    Terapi kelompok dapat dilakukan dengan beberapa cara. Terapis dapat menggunakan salah satu dari wawasan atau gaya kognitif-perilaku, meskipun berpusat pada orang, Gestalt, dan perilaku terapi tampaknya bekerja lebih baik dalam pengaturan kelompok daripada psikodinamik dan kognitif. Selain variasi gaya terapi, struktur kelompok juga dapat bervariasi. Mungkin ada kelompok-kelompok kecil yang terbentuk dari orang-orang yang terkait atau kelompok-kelompok lain yang tidak terkait orang yang bertemu tanpa bantuan terapis. Tujuan mereka adalah untuk berbagi masalah mereka dan memberikan dukungan sosial dan emosional satu sama lain.

Konseling Keluarga

    Salah satu bentuk terapi kelompok adalah konseling keluarga atau terapi keluarga, di mana semua anggota keluarga yang mengalami beberapa jenis masalah—masalah perkawinan, masalah disiplin anak, atau persaingan saudara kandung, misalnya— adalah dilihat oleh terapis sebagai sebuah kelompok. Tujuan dalam terapi keluarga adalah untuk menemukan cara-cara yang tidak sehat di mana anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dan mengubah cara-cara tersebut menjadi lebih sehat, lebih sarana interaksi yang produktif. Terapis keluarga bekerja tidak hanya dengan keluarga tetapi juga dengan pasangan yang berada dalam hubungan berkomitmen, dengan tujuan meningkatkan komunikasi, membantu pasangan untuk belajar cara yang lebih baik untuk memecahkan masalah dan perselisihan mereka, dan meningkatkan perasaan keintiman dan kedekatan emosional.

Self-Help Groups

    Banyak orang mungkin merasa bahwa terapis yang tidak akan mampu untuk benar-benar memahami situasi mereka; dan mereka mungkin juga merasa bahwa seseorang yang telah mengalami kecanduan dan dipukuli lebih mampu memberikan bantuan nyata. Terapis juga sering kekurangan pasokan, dan mereka membebankan biaya untuk memimpin sesi terapi kelompok. Inilah alasan beberapa orang memilih untuk bertemu dengan orang lain yang memiliki masalah yang mirip dengan mereka sendiri, tanpa terapis yang bertanggung jawab. Disebut swadaya kelompok atau support group, kelompok ini biasanya dibentuk di sekitar suatu masalah tertentu. Beberapa contoh kelompok swadaya adalah Alcoholics Anonymous, Overeaters Anonymous, dan Narcotics Anonymous, yang kesemuanya memiliki kelompok yang bertemu di seluruh negeri hampir setiap saat, siang atau malam. Ada kelompok pendukung kecil yang tak terhitung jumlahnya untuk hampir setiap kondisi yang bisa dibayangkan, termasuk kecemasan, fobia, memiliki orang tua dengan demensia, memiliki anak yang sulit, depresi, dan mengatasi stres—untuk menyebutkan beberapa saja. Keuntungan kelompok swadaya mereka bebas dan menyediakan lingkungan sosial dan emosional dukungan yang dapat diberikan oleh sesi kelompok.

Evaluasi Terapi Kelompok

    Terapi kelompok dapat memberikan bantuan kepada orang-orang yang mungkin tidak mampu membayar psikoterapi individu. Karena terapis dapat melihat beberapa klien sekaligus, jenis terapi ini biasanya lebih murah daripada terapi individu. Ini juga memungkinkan kesempatan untuk keduanya terapis dan orang tersebut untuk melihat bagaimana orang tersebut berinteraksi dengan orang lain. Keuntungan lain dari terapi kelompok adalah menawarkan dukungan sosial dan emosional dari orang- orang yang memiliki masalah yang serupa atau hampir identik dengan masalahnya sendiri. 

    Namun terapi kelompok tidak sesuai untuk semua situasi, dan mungkin ada kerugiannya. Klien harus berbagi waktu terapis selama sesi. Orang yang tidak nyaman dalam situasi sosial atau yang kesulitan berbicara di depan orang lain mungkin tidak menemukan terapi kelompok sama membantunya dengan mereka yang lebih bersifat verbal dan sosial. Tambahan, karena terapis bukan lagi satu-satunya orang yang mengungkapkan rahasia dan ketakutannya, beberapa orang mungkin enggan untuk berbicara dengan bebas. Orang yang sangat pemalu mungkin awalnya memiliki kesulitan besar berbicara dalam pengaturan kelompok, tetapi terapi kelompok kognitif-perilaku dapat efektif untuk gangguan kecemasan sosial. Orang dengan gangguan kejiwaan yang melibatkan paranoia yang tidak terkontrol dengan baik, seperti: skizofrenia, mungkin tidak dapat mentolerir pengaturan terapi kelompok. 

    Sebuah survei dan perbandingan efektivitas terapi individu dan kelompok menemukan bahwa terapi kelompok hanya efektif jika jangka panjang dan lebih efektif bila digunakan untuk mempromosikan interaksi sosial yang terampil daripada sebagai upaya untuk mengurangi gejala aneh dari delusi dan halusinasi. Penting juga untuk perhatikan bahwa terapi kelompok dapat digunakan dalam kombinasi dengan terapi individu dan biomedis.

Keefektivan Psikoterapi

    Pada 1950-an, Hans Eysenck melakukan salah satu studi paling awal tentang efektivitas terapi. Kesimpulannya adalah orang yang menerima psikoterapi tidak pulih lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukan psikoterapi, 

    Studi Efektivitas Survei klasik Eysenck menciptakan kontroversi besar dalam dunia psikologi klinis dan konseling. Peneliti lain memulai studi mereka sendiri untuk menemukan bukti yang bertentangan dengan temuan Eysenck. Salah satu upaya tersebut meninjau studi yang dianggap oleh para peneliti untuk dikendalikan dengan baik dan menyimpulkan bahwa psikoterapi tidak berbeda satu sama lain dalam efektivitas (Luborsky et al., 1975). Tentu saja, itu bisa berarti bahwa psikoterapi semuanya sama-sama efektif atau bahwa mereka semua sama-sama tidak efektif. (Pengingat—banyak ahli psikologi mengambil pendekatan eklektik, menggunakan lebih dari satu teknik psikoterapi.) Ada banyak masalah dengan mempelajari efektivitas psikoterapi. 

    Dalam studi jangka pendek, terapi perilaku jelas akan terlihat lebih efektif. Terapi tindakan seperti terapi perilaku mengukur keberhasilan terapi berbeda dari terapi wawasan; dalam terapi perilaku pengurangan perilaku yang tidak diinginkan mudah diukur secara objektif, tetapi memperoleh wawasan dan perasaan kontrol, harga diri, harga diri, dan sebagainya tidak mudah dievaluasi. 

    Namun demikian, survei yang lebih baru menunjukkan bahwa orang yang telah menerima psikoterapi percaya bahwa mereka lebih sering ditolong daripada tidak (Consumer Reports, 1995; Kotkin et al., 1996). Penelitian Consumer Reports merupakan survei dari majalah pembaca di mana mereka yang pernah atau sedang menjadi klien dalam psikoterapi menilai efektivitas terapi yang mereka terima. 

    Berikut adalah temuan dari ringkasan ini dan beberapa survei serupa lainnya (Lambert & Ogles, 2004; Seligman, 1995; Thase, 1999) : 

• Diperkirakan 75-90 persen orang merasa bahwa psikoterapi telah membantu mereka.
• Semakin lama seseorang menjalani terapi, semakin besar peningkatannya. 

    Studi lain telah menemukan bahwa beberapa psikoterapi lebih efektif untuk tertentu jenis gangguan (Clarkin et al., 2007; Hollon et al., 2002) tetapi tidak ada psikoterapi yang paling efektif atau berhasil untuk setiap jenis masalah. Karakteristik Terapi Efektif Faktor umum terpenting dari kesuksesan psikoterapi mungkin hubungan antara klien dan terapis, yang dikenal sebagai aliansi terapeutik. Hubungan ini harus peduli, hangat, dan menerima, dan menjadi dicirikan oleh empati, saling menghormati, dan pengertian. Terapi juga harus menawarkan klien pengaturan yang dilindungi di mana untuk melepaskan emosi dan mengungkapkan pikiran pribadi dan keprihatinan dan harus membantu klien memahami mengapa mereka merasa seperti yang mereka lakukan dan berikan mereka dengan cara untuk merasa lebih baik. Faktor umum lainnya dalam efektivitas terapi adalah kesempatan untuk katarsis (menghilangkan emosi yang terpendam), pembelajaran dan praktik perilaku baru, dan pengalaman positif bagi klien. 

Karakteristik Terapi Efektif

    Faktor umum terpenting dari kesuksesan psikoterapi mungkin hubungan antara klien dan terapis, yang dikenal sebagai aliansi terapeutik. Hubungan ini harus peduli, hangat, dan menerima, dan menjadi dicirikan oleh empati, saling menghormati, dan pengertian. Terapi juga harus menawarkan klien pengaturan yang dilindungi di mana untuk melepaskan emosi dan mengungkapkan pikiran pribadi dan keprihatinan dan harus membantu klien memahami mengapa mereka merasa seperti yang mereka lakukan dan berikan mereka dengan cara untuk merasa lebih baik. Faktor umum lainnya dalam efektivitas terapi adalah kesempatan untuk katarsis (menghilangkan emosi yang terpendam), pembelajaran dan praktik perilaku baru, dan pengalaman positif bagi klien.

Terapi Biomedis

    Sama seperti terapis yang terlatih dalam psikoanalisis lebih cenderung menggunakan teknik tersebut, seorang terapis yang perspektifnya tentang kepribadian dan perilaku biologis kemungkinan besar akan beralih ke teknik medis untuk mengelola perilaku yang tidak teratur. Terapi biomedis terbagi menjadi beberapa pendekatan dan dapat terdiri dari terapi obat, terapi kejut, perawatan bedah, atau teknik stimulasi noninvasif.

1. Psychopharmacology

    Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan atau meredakan gejala gangguan psikologis disebut psikofarmakologi. Meskipun obat ini kadang-kadang digunakan sendiri, mereka lebih sering dikombinasikan dengan beberapa bentuk psikoterapi dan hasilnya lebih efektif. Ada empat kategori dasar obat-obatan: digunakan untuk mengobati gangguan psikotik, gangguan kecemasan, fase manik gangguan mood, dan depresi.

• Antipsychotic Drugs 

    Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gejala psikotik, seperti halusinasi, delusi, dan perilaku aneh, disebut obat antipsikotik. Obat-obatan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, antipsikotik klasik atau tipikal, dan antipsikotik atipikal yang lebih baru. Antipsikotik tipikal pertama yang dikembangkan adalah klorpromazin. Antipsikotik generasi pertama menyebabkan "neurolepsis" atau memperlambat dan mengurangi emosi, dan dengan demikian disebut sebagai neuroleptic.

• Antianxiety Drugs

    Obat anti-kecemasan tradisional adalah obat penenang ringan atau benzodiazepin seperti Xanax, Ativan, dan Valium. Semua obat penenang ini memiliki yang tepat dapat mulai meredakan gejala kecemasan dalam waktu 20 sampai 30 menit setelah minum obat melalui mulut.

• Mood-Stabilizing Drugs

    Selama bertahun-tahun, pengobatan pilihan untuk gangguan bipolar dan episode mania adalah lithium. Obat antikonvulsan, biasanya digunakan untuk mengobati gangguan kejang, juga telah digunakan untuk mengobati mania. Contohnya adalah  karbamazepin, asam valproat (Depakote), dan lamotrigin. Obat- obatan ini bisa sama efektifnya dalam mengendalikan perubahan suasana hati seperti lithium dan juga bisa digunakan dalam kombinasi dengan perawatan lithium (Bowden et al., 2000; Thase &Sachs,2000).

• Antidepressant Drugs

2. Electroconvulsive Therapy

    ECT melibatkan pengiriman kejutan listrik ke salah satu sisi atau kedua sisi kepala seseorang, mengakibatkan kejang atau kejang tubuh dan pelepasan banjir neurotransmiter di otak (American Asosiasi Psikiatri [APA] Komite Terapi Electroconvulsive, 2001). Hasilnya adalah perbaikan suasana hati yang hampir seketika, dan ECT digunakan tidak hanya pada kasus depresi berat yang tidak merespon pengobatan obat atau psikoterapi, atau di mana efek samping obat tidak dapat diterima, tetapi juga dalam pengobatan beberapa gangguan berat lainnya, seperti skizofrenia dan mania berat, yang tidak merespon pengobatan alternatif (APA Committee on Electroconvulsive Therapy, 2001; Pompili dkk., 2013).

3. Psychosurgery

    Salah satu teknik psikosurgery paling awal dan paling terkenal adalah lobotomi pre frontal, di mana koneksi korteks prefrontal ke area lain dari otak terputus. Lobotomi dikembangkan pada tahun 1935 oleh ahli saraf Portugis Dr. Antonio Egas Moniz, yang dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang kedokteran atas kontribusinya terhadap bedah psiko (Cosgrove & Rauch, 1995; Freeman & Watts, 1937).

Comments

Popular posts from this blog

Seksualitas dan Gender #11

Perspektif Biologis Pada Psikologi #2

Psiologi Sosial #10